Melesatkan Imunitas

Selasa, 24 Mar 2020 | 13:02:22 WIB - Oleh Humas RS PKU Muhammadiyah Wonosobo


Melesatkan Imunitas

Melansir dari artikel Guru Besar FK Unair dan sekaligus Dewan Pakar IDI Jatim yaitu Bapak Abdurachman - Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Dirjen Orgnisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengeluarkan press briefing pada 20 Maret 2020. Isinya antara lain mengajak solidaritas seluruh bangsa di dunia. Pernyataan yang bermakna sebagai ajakan untuk menjauhi egoisme. 

Pandemi Global Covid-19 tak pilih tebang. Siapa pun bisa mereka senang. Entah menteri, entah yang lain. Pejabat atau bukan. Siapa pun tak berbukti bisa tahan. Jika imunitas berada di titik rentan. Tak peduli bangsa Eropa, Asia, Afrika atau entah bangsa apa saja. 
Kabar baiknya, si covid-19 tak betah bertahan. Di dia yang memiliki imunitas optimal. Imunitas adalah cara tubuh menghadang lawan. Sempurna menang atau jadi pecundang. Sakit bertambah sakit lalu hilang meninggal. Tak satu pun kita yang ingin segera berpulang. Jika tahu pasti kita bisa jadi pemenang. Ilmuan dahulu atau yang belakangan. Belum ada yang berhasil buktikan. Imunitas menjulang kalah perang melawan segala infektan. Termasuk Covid-19 yang bermula dari Wuhan. 

Hukum Pasangan
Newton terkenal membawa hukum aksi-reaksi (1687). Sir Isaac Newton adalah bapak ilmuwan moderen. Ia menerima gelar kebangsawanan dari kerajaan Inggris. Ia mempopulerkan hukum aksi-reaksi dalam karya terkenalnya Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica. 
Einstein (1905) menjadi ilmuwan kemutakhiran ilmu melalui teori relativitas. John Horgan dalam bukunya The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in The Twilight of The Scientific Age (1996), menyebutkan bahwa teori Einstein menandai puncak dari ilmu-ilmu moderen. 
Artinya tidak ada lagi kemajuan ilmu setelah teori ini. Kemajuan ilmu hanya ditandai pengembangan dari relativitas Einstein.  Termasuk biolgi molekuler yang kemudian melahirkan penemuan pesat di bidang imunologi. Ilmu yang mendasari teori imunitas tubuh. 

Melalui teori relativitas, Einstein melahirkan hukum fisik-nonfisik. Hukum fisik-nonfisik senada dengan hukum aksi-reaksi Newton. Sesuai dengan Newton, seirama dengan Einstein, penulis (2014, dalam buku Dasar-dasar Kedoteran Timur) memajukan hukum pasangan. 

Menurut hukum pasangan, imunitas hanya berwujud tahan-rentan. Yang tahan berimunitas optimal. Yang rentan berimunitas minimal, tak berbekas harapan, lalu meninggal. 

Namun yang penting, siapa pemilik imunitas optimal. Siapa pemilik imunitas minimal. Logika berujar, tak seorang pun bisa melarang orang memiliki imunitas optimal. Sesulit menghalang orang menginginkan berimunitas minimal. 

WHO sudah lama mensosialisasikan. Pemerintah Indonesia. Bahkan seluruh bangsa di berbagai belahan. Bagaimana meningkatkan higienitas diri. Mulai dari cuci tangan, semprotan lingkungan, cara bersin, cara batuk, cara karantina atau isolasi, bahkan cara berdekatan, social distancing. Itu merupakan serangkaian upaya memperoleh imunitas melalui jalur fisik.  

Terhadap upaya nonfisik, belum banyak dibincangkan. Baik WHO, negara Paman Sam atau negara lokasi Wuhan. Padahal beribu riset, baik yang terdahulu atau pun yang belakangan, telah menghasilkan sekian jumlah besar kesimpulan. Bahwa imunitas bisa dilesatkan melalui upaya nonfisik. Bersihkan egoisme sampai ke dasar. Egoisme adalah motivasi fokus untung bagi diri sendiri. Egoisme mengutamakan diri daripada orang lain. 
Datang rapid test (tes laboratorium cepat, saat ini untuk Covid-19), tampa gejala jelas yang dimajukan. Merupakan gambaran lain menutup peluang pasien sungguhan. Kalau hal-hal keliru bersifat egoisme terus dilakukan, yang datang adalah kegelisahan yang semakin mencekam. 

Selanjutnya imunitas menurun tajam dan kita menjemput kerugian. Pasangan egoisme adalah altruisme. Sifat mereka mendahulukan selain dirinya. 

Intinya apa saja yang manfaat dirinya bisa ia tebarkan. Ia bersegera membantu siapa pun yang membutuhkan. Ini upayanya yang berbuah kebahagiaan, yang kemudian melahirkan imunitas menjulang, badan sehat bahagia, sejahtera.  
Terhadap potensi altruisme dalam melesatkan imunitas. Seorang pakar bedah asli berkebangsaan Paman Sam. Sabar menunggu hasil penelitian. Terhadap sejumlah 57 orang wanita. Kasus penderita keganasan payudara, carcinoma (Ca) mamma. 
Mereka semua bisa sembuh total. Dari keganasan sel-sel carcinoma, melalui jalan love, altruisme. Mereka membuka hari dengan senyum. Gambaran syukur dan senang.  Ucapkan salam kepada siapapun yang berpapasan. Mereka siapkan merawat tanaman. Memelihara hewan dengan hati lapang. Membantu siapa pun yang perlu uluran. Tak lama berselang. Imunitas mereka mampu menahan. Laju pertumbuhan sel-sel ganas yang terus mencoba menumbangkan. Hasil temuan Siegel ia abadikan dalam bukunya yang bertajuk, “Love, Medicine, and Miracles”. Buku international best seller, dicetak berulang. Diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.  

Heran terhadap yang disaksikan. Siegel meneruskan penelitian. Sekali ini terhadap penderita HIV/AIDS. Virus ganas yang menyerang imunitas tubuh penderita sendiri.  Tidak memberi kesempatan siapa pun untuk hidup bertahan. 

Setidaknya, saat melakukan penelitian Siegel tak lupa dengan kisah keganasan Ca mamma yang berhasil sembuh. Kali ini Siegel pun memperoleh hasil menakjubkan. Pasien HIV/AIDS sembuh sempurna. 
Penderita HIV/AIDS berubah haluan. Mereka jadi relawan yang menyiapkan bantuan bagi siapa pun. Altruisme mereka meningkat tajam. Pada saat sekarang, altruisme menjadi pedoman paling depan bagi siapa pun yang merawat pasien HIV/AIDS. 

Covid-19 bukan HIV/AIDS yang sangat mematikan. Covid-19 sangat bisa diadang dengan jalan dahulukan orang lain, altruisme, love. Saling berkasih sayang atas nama Tuhan. Imunitas menjulang untuk mengadang Covid-19.      
Setiap kita berpeluang mesatkan imunitas sampai optimal, menuntaskan problem global Covid-19 melalui altruisme. Empaskan egois dari setiap keadaan. Kita berpeluang menang menutup pandemi global ini! 



Jumat, 06 Mar 2020, 13:02:22 WIB Oleh : Humas RS PKU Muhammadiyah Wonosobo 1568 View
RS PKU Muhammadiyah Wonosobo menjadi salah satu dari Muhammadiyah COVID-19 Command Center
Senin, 02 Des 2019, 13:02:22 WIB Oleh : Humas RS PKU Muhammadiyah Wonosobo 826 View
Dorong Majukan Amal Usaha, MPI Wonosobo Adakan Worksop Literasi Digital
Senin, 02 Des 2019, 13:02:22 WIB Oleh : Humas RS PKU Muhammadiyah Wonosobo 677 View
In House Training PPI, PPRA, KMKP, Skrinning, Triage, dan Transfer Pasien Insan RS PKU Muhammadiyah Wonosobo

Tuliskan Komentar